Example floating
Example floating
Tanjungpinang

Diusir Keluarga Karena Mualaf, Hingga Hijrah Ke Tanjungpinang dan di Bantu Berbagai Pihak

303
×

Diusir Keluarga Karena Mualaf, Hingga Hijrah Ke Tanjungpinang dan di Bantu Berbagai Pihak

Share this article
Petugas dari BAZNAS Kota Tanjungpinang beserta pengurus Perkumpulan Muslim Karo Tanjungpinang saat mengunjungi Keluarga "Ibnu Sabil" di Musholla Nurul Yakin Pamedan, Tanjungpinang. (Ft: Ist)

TANJUNGPINANG, Kepritoday.id – Sebuah keluarga di Tanah Karo, Sumatera Utara menjadi sorotan publik setelah mengalami pengusiran dan penolakan dari lingkungan keluarga besar mereka sendiri. Peristiwa ini terjadi lantaran kepala keluarga dan anggota keluarganya memeluk keyakinan yang berbeda, dikenal dengan istilah Mualaf (Mualaf adalah sebutan bagi orang yang baru masuk atau berpindah agama, khususnya dalam konteks agama tertentu).

Kronologi Kejadian

Menurut informasi yang dihimpun, konflik ini berawal sejak kepala keluarga tersebut memutuskan untuk berpindah keyakinan beberapa waktu lalu. Keputusan ini tidak diterima dengan baik oleh keluarga besarnya.

Awalnya, keluarga tersebut hanya mendapatkan tekanan sosial, perlakuan berbeda, hingga ancaman verbal agar kembali ke agama asal. Namun, situasi memanas ketika pihak keluarga besar memberikan ultimatum agar keluarga tersebut meninggalkan rumah atau wilayah tempat mereka tinggal.

Hijrah dari Tanah Karo ke Kota Tanjungpinang

Perjalanan hijrah meninggalkan kampung halaman di Tanah Karo menuju Kota Tanjungpinang ternyata penuh dengan liku-liku dan rintangan berat. Itulah yang dialami oleh keluarga L. Sembiring bersama istri dan dua anaknya. Niat hati ingin mengadu nasib di perantauan, justru harus diuji dengan keterbatasan yang luar biasa.

Perjalanan Panjang Dari Tanah Karo

Perjalanan panjang mereka tempuh dengan modal seadanya. Mulai dari menempuh perjalanan darat dari Medan menuju Tanjung Buton, dilanjutkan naik kapal Roro ke Telaga Punggur, hingga akhirnya sampai di Pelabuhan Tanjungpinang.

Namun, setibanya di kota tujuan, bekal uang yang dibawa akhirnya menipis dan habis tak bersisa. Terpaksa, demi menghidupi keluarga, kepala keluarga rela berjualan tisu di lampu merah kawasan Pamedan. Sementara tempat tinggal, mereka awalnya hanya berteduh di area terbuka, hingga akhirnya berkenalan dengan petugas kebersihan yang mengizinkan mereka menumpang sementara di sebuah Musholla di kawasan lapangan Pamedan.

Dibantu Berbagai Pihak

Kisah pilu keluarga yang tergolong “Ibnu Sabil” ini awalnya bertemu dengan salah satu Ormas Laskar Brd (Lansia Berkarya Biram Dewa) Kepri, selanjutnya Ketua Laskar Brd, Fiman Nugrajanto bersama Sekretaris Laskar Brd, Indrawandi berupaya menghubungi Instansi terkait dan sesama Marga keluarga “Ibnu Sabil” tersebut untuk mencari solusi terbaik dan pada akhirnya Achmad Pardamean Sembiring, yang merupakan satu Marga dengan keluarga “Ibnu Sabil” mendatangi lokasi keluarga tersebut dengan membawa pihak Yayasan Mualaf Bersatu Kepri, karena mereka merupakan Mualaf.

Melalui Ustadz Sudianto, yayasan ini kemudian bergerak cepat memfasilitasi dan menghubungkan keluarga tersebut dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Tanjungpinang serta Perkumpulan Muslim Karo Tanjungpinang.

Kepedulian Penuh Solidaritas

Achmad Pardamean Sembiring, Wakil Ketua Perkumpulan Muslim Karo Tanjungpinang, mengaku sangat prihatin dan terharu melihat kondisi keluarga sesama suku Karo tersebut.

“Kami turut prihatin dan merasa terharu melihat perjuangan mereka,” Ungkap Achmad Pardamean.

Melalui Anggota DPRD Kota Tanjungpinang dan Baznas serta Dinas Sosial

Untuk menanggulangi kondisi tersebut, pihaknya langsung bergerak cepat. Melalui Rantha Fauzi Sembiring selaku Anggota DPRD Kota Tanjungpinang, pihaknya berkoordinasi intens dengan BAZNAS dan Dinas Sosial Kota Tanjungpinang.

“Kami berkoordinasi dengan BAZNAS dan Dinas Sosial Kota Tanjungpinang untuk membantu keluarga yang membutuhkan bantuan ini,” tambahnya.

Berkat kolaborasi yang solid tersebut, saat ini keluarga L. Sembiring sudah tidak lagi menumpang di Musholla Nurul Yakin di sekitaran lapangan Pamedan. Mereka kini telah diinapkan di sebuah rumah kosong yang layak huni. Kamis, (9/4/26).

“Saat ini keluarga “Ibnu Sabil” tersebut telah kita inapkan di rumah kosong, kebetulan rumah itu bisa digunakan untuk tinggal dan jauh lebih layak. Ke depannya kita akan berusaha membantu mereka mendapatkan pekerjaan atau usaha yang layak demi kemanusiaan,” jelas Achmad.

Ia pun menegaskan pentingnya rasa solidaritas dan kekeluargaan, terutama bagi sesama perantau.

“Rasa solidaritas dan kekeluargaan ini harus terus kami pupuk dan tanamkan kepada semua orang, khususnya kita di daerah perantauan ini. Kami berterima kasih kepada Yayasan Mualaf Bersatu Kepulauan Riau, dan BAZNAS Kota Tanjungpinang yang sudah memberikan bantuan dan perhatian bagi keluarga kami,” tutupnya. (red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *